Selama Pandemi, Akses Anak ke Gadget dan Internet Meningkat

  • Whatsapp
anak akses gadget dan internet
Ilustrasi. [Foto: Ist]

Kuarter.id-Sejak pandemi Covid-19, kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring dari rumah. Anak-anak tidak lagi berangkat ke sekolah dan bersosialisasi dengan teman-teman sekelasnya secara fisik.

Kegiatan ini kemudian dialihkan ke media daring untuk menghindari penyebaran Covid-19 pada kluster sekolah. Oleh karena itu, kebutuhan akan kepemilikan gadget dan akses internet menjadi salah satu kebutuhan pokok anak sekolah di masa pandemi.

Read More

Semenjak pandemi Covid-19, anak-anak menjadi semakin mudah mengakses teknologi digital dan internet. Karena telah menjadi kebutuhan pokok, tidak sedikit orang tua memberikan gadget pribadi kepada sang anak.

Selain itu, tugas orang tua di rumah menjadi bertambah, karena harus mengawasi sang anak selama menggunakan gadget dan mengakses internet.

Tentu sang anak harus mendapat pendampingan ketat karena mereka masih belum mampu membedakan mana yang baik untuk ditiru maupun sebaliknya.

Bagi orang tua pekerja, ‘tugas tambahan’ ini agaknya memberatkan karena harus mengawasi sang anak lebih ekstra.

Akses Meningkat Selama Pandemi

Survei JakPat menunjukkan, akses anak terhadap konten digital semakin meningkat selama pandemi. Dilansir dari databoks.katadata.co.id, hasil survei ini dilakukan kepada 896 orang tua dengan rentang usia 20-44 tahun.

Baca juga: Alasan Main Games, Ini Dia Games dengan Unduhan Tertinggi

Hasilnya, 72,3% anak mengakses konten digital dengan menonton Youtube. Angka ini naik selama pandemi, sedangkan sebelum pandemi angkanya hanya 68,5%.

Sementara itu, persentase menonton televisi nasional mengalami sedikit penurunan selama pandemi. Menurut JakPat, sebelum pandemi angkanya mencapai 57,9%, sedangkan setelah pandemi menurun menjadi 57,6%.

JakPat melaporkan dalam hasil surveinya ini persentase mengakses aplikasi pendidikan meningkat tajam.

Seperti yang diketahui, akses pendidikan lewat media daring menjadi opsi utama yang bisa dilakukan agar proses pendidikan tetap berjalan.

Sebelum pandemi, akses aplikasi pendidikan mencapai 33%. Sementara itu, setelah pandemi, angkanya naik tinggi menjadi 46,8%.

Di samping itu, angka bermain game seluler melalui konten digital juga mengalami peningkatan.

JakPat melaporkan, sebelum pandemi akses bermain game seluler mencapai 42,1%. Setelah pandemi mengalami peningkatan menjadi 45,7%.

Mayoritas Gunakan Handphone untuk Komunikasi

Pandemi Covid-19 membuat komunikasi fisik semakin terbatas. Komunikasi melalui gadget menjadi opsi yang tepat agar dapat saling terhubung dengan kerabat.

JakPat melaporkan, selama pandemi aktivitas komunikasi dengan handphone paling tinggi dilakukan masyarakat Indonesia. Persentasenya mencapai 97,3%.

Aktivitas hiburan juga cukup tinggi dilakukan melalui handphone, yaitu 76%. Kemudian disusul aktivitas transaksi sebanyak 74%.

Perjalanan dan pengiriman sebanyak 52,6%. Sementara itu, persentase untuk kerja dan belajar menggunakan handphone hanya 50,2%

Perketat Pengawasan Anak dalam Mengakses Konten Digital

Masih berdasarkan hasil survei yang sama, JakPat melaporkan beberapa hal yang dilakukan orang tua dalam mengawasi sang anak selama mengakses konten digital.

Sebanyak 50,7% orang tua melakukan pengawasan dengan mengatur kata sandi handphone. Sementara itu, sebanyak 41% orang tua mengatur kata sandi aplikasi.

Memasang aplikasi khusus juga dilakukan orang tua, yaitu sebanyak 31,6%.

Baca juga: Selama Pandemi, Persentase Menonton Drama Korea Meningkat

Teknologi digital dan internet memang dapat membantu sang anak mempelajari hal-hal baru. Dengan teknologi ini, anak-anak masih dapat melakukan aktivitas belajar meskipun berada di masa pandemi.

Namun, di sisi lain, bila teknologi digital dan internet ini tidak dapat digunakan secara bijak, maka dapat memicu anak-anak melakukan perbuatan yang tidak baik. Di sinilah, peran kita sebagai orang tua, kakak, teman, dan masyarakat untuk aktif mendampingi anak-anak dalam menggunakan teknologi yang ada.

Jangan sampai konten digital yang memuat hal-hal negatif menjadi contoh bagi anak-anak untuk melakukan hal-hal buruk di lingkungannya.

Nah, sebagai generasi milenial, pengawasan apa yang kamu lakukan untuk mencegah anak-anak mengakses konten negatif?


Baca informasi lainnya hanya di Kuarter.id

Related posts