[Review] Kisah Pilu Seorang Anak di Keluarga Disabilitas “Bori” (2018)

  • Whatsapp
review film bori
Adegan Bori, anak perempuan berusia 11 tahun sedang berbincang menggunakan bahasa isyarat dengan ayah, ibu, dan adiknya yang tuli. [Foto:Ist]

Kuarter.id – Kemunculan film dengan seorang anak menjadi tokoh utama mungkin jarang kamu temukan. Apalagi yang mengangkat keluguan juga kesedihan dalam satu waktu. Ditambah lagi karakter yang diangkat hidup di tengah keluarga penyandang disabilitas. Dan film Bori akan memberikan kamu pengalaman menyaksikan kisah tersebut.

Bori (Kim Ah Song) merupakan sebuah film dari Korea Selatan yang mengangkat kisah seorang anak berusia 11 tahun yang hidup di tengah keluarga penyandang disabilitas. Ayah (Kwag Jin Suk) dan adiknya (Lee Lin Ha) mengalami tuli sejak lahir, bahkan ibunya (Hur Ji Na) menjadi tuli sejak ia duduk di bangku sekolah dasar.

Read More

Sebagai CODA, akronim untuk anak-anak dari orang dewasa tuli, Bori kerap kali merasa terasing di tengah keluarganya. Ia merasa “sunyi” sendiri karena kesulitan untuk bergabung dalam percakapan bahasa isyarat di rumah.

Hingga akhirnya Bori merasa frustasi dan terus berdoa memohon agar dirinya juga menjadi tuli seperti keluarganya yang lain. Dan pada suatu kesempatan, Bori pun menceburkan dirinya ke laut setelah mengetahui fakta bahwa seorang penyelam dapat mengalami tuli karena tekanan di dalam air yang begitu hebat dapat merusak pendengaran seseorang.

Lepas sadar, Bori pun tak bisa mendengar lagi. Namun, lambat laun diketahui bahwa ia hanya berpura-pura tuli agar merasakan kenyamanan berkomunikasi di tengah keluarganya.

Baca juga: [Review] Film Realitas Waktu, Berjibaku dengan Masa Lalu “The Call” (2020)

Memahami Orang Lain

Tentunya menjadi Bori pun tidak mudah. Ia menjadi “normal” di tengah keluarganya yang tuli dan tentu yang ia rasakan adalah ketidaknyamanan. Namun, sosok Bori mengajarkan kita untuk peka dan peduli terhadap orang lain.

Dengan memperhatikan dan berinteraksi dengan keluarganya yang tuli Bori menjadi sosok yang mudah memahami orang lain. Dalam suatu momen bahkan Bori berani membela ibunya yang “dirundung” secara diam-diam oleh orang “normal” ketika berbelanja pakaian.

Di lain waktu, Bori yang tengah berpura-pura menjadi tuli, justru lebih bisa memahami perasaan ketika menerima perundungan dari teman-temannya. Bori yang tentunya saat itu masih bisa mendengar pun akhirnya mendengar semua hinaan yang ditujukan kepadanya karena ia (sedang berpura-pura) tuli.

Bahkan tak ada lagi teman yang ingin bermain dengan Bori dan menyapa Bori, karena menurut mereka tidak akan menyenangkan bermain dengan seorang penyandang disabilitas, apalagi sulit berkomunikasi dengan mereka karena ketidakmampuannya untuk mendengar percakapan.

Ia pun lebih mampu memahami perasaan adiknya yang sering kali terlambat ke sekolah karena sulit untuk membaca gerakan bibir gurunya ketika sedang menjelaskan materi. Tak hanya itu, adik Bori pun disisihkan dari tim sepak bola padahal ia memiliki kemampuan yang baik, hanya karena tidak bisa mendengar.

Di sinilah kamu akan menyaksikan kepiluan seorang anak normal yang mencoba memahami orang lain dengan caranya. Bori berusaha membuka realitas-realitas yang selama ini tidak kamu sadari sebagai “orang normal” yang hidup dengan para penyandang disabilitas.

Mereka Juga Punya Kesempatan yang Sama

Sutradara Kim Ji Yu berhasil membawa Bori menjadi salah satu film emosional di tahun 2018, meski dengan cerita keluarga yang terbilang sederhana. Hal ini karena sutradara Kim Jin Yu juga memiliki seorang ibu yang tuli. Karena itu beberapa adegan dalam film Bori ia tuliskan sesuai dengan pengalamannya sebagai CODA.

Baca juga: [Review] Film Keluarga Penuh Hikmah “Rentang Kisah”

Ia bahkan berhasil menuliskan dialog-dialog yang cukup mendalam antara Bori dan ayahnya. Melihat keduanya berbicara dari hati ke hati dengan bahasa isyarat akan membuatmu meneteskan air mata.

Tak hanya itu dialog Bori dan ibunya saat ia (sedang berpura-pura) tuli pun cukup menguras emosi. Di mana saat itu ibu Bori menjelaskan alasannya menangis di rumah setelah mendengar Bori kini menjadi tuli, persis seperti dirinya di masa lalu.

Di film dengan durasi 1 jam 54 menit ini pun kamu akan melihat bahwa kesempatan yang sama harus diberikan kepada mereka yang memiliki bakat serta potensi.

Dalam film ini, digambarkan adik Bori yang pada akhirnya bisa mewakili sekolahnya untuk menjadi tim sepak bola. Meski memiliki keterbatasan, adik Bori juga punya kelebihan yaitu kecepatannya dalam menggiring dan menggocek bola.

Dalam kehidupan nyata, sering kali penerimaan ini dikesampingkan oleh banyak pihak hanya karena mereka memiliki “kekurangan”. Sering kali satu kekurangan tersebut menutupi banyak kelebihan yang dimiliki.

Beruntung saat ini sudah lebih banyak perusahaan yang mau menerima para penyandang disabilitas. Hal ini harus terus digalakkan karena mereka juga punya kesempatan yang sama dengan orang lain.

Meskipun cerita Bori dibalut dengan naskah yang sederhana dan pengambilan gambar yang tidak terlalu “heboh”, bisa dibilang Bori berhasil menyuguhkan keindahan dialog dan pengambilan gambar yang ciamik.

Sudah siap menikmati cerita pilu dan lugu Bori di tengah keluarganya yang “hening”? Jangan lupa siapkan tisu ketika menyaksikan film ini ya.


Baca informasi lainnya hanya di Kuarter.id

Related posts