Lancong Yuk ke Desa Terbersih di Dunia, Desa Penglipuran Bali

  • Whatsapp
desa penglipuran bali
Bentuk keseragaman pintu masuk (pamedal), pagar, dan penataan di depan pagar rumah warga di Desa Penglipuran, Bali. [Foto:Ist]

Kuarter.id – Sejak tahun 1995, Desa Penglipuran Bali telah menyandang predikat sebagai desa terbersih. Penghargaan tersebut didapatkan mulai dari yang berskala nasional seperti penghargaan Kalpataru yang diberikan pemerintah Indonesia serta meraih penghargaan ISTA (Indonesia Sustainable Tourism Award) tahun 2017.

Hingga puncaknya, Penglipuran dinobatkan sebagai salah satu dari tiga desa terbersih di dunia versi majalah Amerika Serikat, Boombastic Magazine. Saat itu Penglipuran disejajarkan dengan tiga desa lainnya, yakni Desa Giethoorn Belanda dan Desa Mawlinnong India.

Read More

Widiastuti (2018) dalam jurnalnya yang berjudul “Ketahanan Budaya Masyarakat Bali Aga dalam Menciptakan Desa Wisata yang Berkelanjutan” menuliskan berkat penataan desa yang terlihat rapi dan indah, membuat desa ini meraih predikat desa terbersih di dunia.

Penglipuran sendiri terletak di Kelurahan Kubu, Kabupaten Bangli. Kamu bisa mendatangi lokasi ini dengan mobil atau sepeda motor selama kurang lebih 2 jam dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Sesampainya di desa ini ,kamu akan disuguhkan panorama desa yang indah. Dengan di kelilingi pegunungan membuat asrinya suasana desa makin terasa. Selain itu kamu akan disuguhkan dengan pemandangan desa yang begitu bersih.

Sama sekali tak terlihat sampah berceceran bahkan menumpuk di desa ini. Bahkan kendaraan bermotor pun tak ada yang berani melintas di pekarangan utama desa.

1. Keunikan Fisik

Desa Penglipuran memiliki keunikan fisik dibandingkan desa lainnya yang ada di Bali. Pola tata ruang desanya didesain dengan menggunakan konsep Hulu-Teben.

Pada bagian hulu diletakkan Pura Puseh. Bagian tengah diletakkan pemukiman dan fasilitas umum. Sedangkan di bagian teben diletakkan kuburan dan Pura Dalem.

Uniknya penataan ruang ini terus bertahan sampai sekarang. Bahkan berkat keunikan fisiknya yang terpelihara wisatawan pun selalu datang berkunjung. Tercatat setiap harinya hampir 400 wisatawan datang berkunjung ke desa ini.

Baca juga: 3 Desa Unik Bali Aga yang Sayang untuk Dilewatkan

2. Rapinya Penataan Desa

desa unik bali aga
Keindahan dan kebersihan di Desa Penglipuran, Bangli, Bali. [Foto: Pinterest]
Nah, untuk melestarikan adat istiadat serta menjaga agar tata ruang desa tetap tertata rapi, ada dua aturan dasar yang harus dipenuhi oleh seluruh warga Desa Penglipuran lho.

Pertama, mereka dilarang mengubah 3 elemen bangunan adat. Mulai dari bale adat, dapur, hingga pagar dengan kori. Sedangkan bangunan lainnya boleh disesuaikan dengan kebutuhan warga.

Kedua, warga desa dilarang membawa masuk kendaraan ke dalam pekarangan utama desa. Karena itu jika kamu bertandang ke desa ini kamu tak akan melihat kendaraan berlalu lalang di pekarangan utama desa. Pekarangan pun jadi bersih dan tertata dengan rapi. Nah, warga yang ingin membawa masuk kendaraannya bisa melalui bagian belakang pekarangan.

Selain itu, jika kamu berkunjung ke desa ini, kamu akan melihat keseragaman pintu masuk (pamedal), pagar, dan penataan di depan pagar.

Kamu juga bisa lho masuk ke rumah warga dan melihat bangunan tradisional yang masih dilestarikan seperti dapur (paon) dan bale adat.

Dengan aturan yang ketat tersebut bisa dibilang Desa Penglipuran sukses mewujudkan desa yang bersih dan rapi.

3. Pengelolaan Adat dan Administrasi yang Baik

Bisa dibilang suksesnya manajemen wisata di Desa Penglipuran karena sistem pengelolaan adat dan administrasinya saling terintegrasi. Bahkan, desa adat membentuk suatu yayasan yang bertugas mengelola pariwisata desa.

Warga desa adat sendiri yang bertanggung jawab menjadi pengurusan yayasan. Dari pengelolaan itu, disepakati setiap wisatawan lokal harus membayar tiket masuk sebesar Rp 15.000 dan Rp 30.000 untuk wisatawan asing.

Jika kamu ingin menginap, yayasan milik Desa Penglipuran juga menyediakan paket wisata lho. Kamu bisa merasakan sensasi menjadi warga Desa Penglipuran dengan membayar paket wisata dan menginap di kediaman milik warga yang ada di pekarangannya.

Dengan adanya manajemen wisata yang baik, tentu semua pihak dapat merasakan manfaat. Mulai dari warga desa Penglipuran, Pemkab Bangli, hingga pengelola yayasan mendapatkan keuntungan dari lancarnya bisnis pariwisata desa.

Tentu ini bisa dicontoh oleh desa lainnya yang ada di Bali maupun di Indonesia untuk dapat meningkatkan kesejahteraan warganya dengan mengangkat wisata berbasis kearifan budaya lokal setempat. Keren, bukan?

4. Makanan Tradisional, Loloh Cemceman dan Tipat Cantok

loloh cemceman
Minuman khas yang kaya khasiat di Desa Penglipuran, loloh cemceman. [Foto:Ist]
Jika kamu salah satu orang yang gemar wisata kuliner, wajib buat kamu mencicipi kuliner khas Desa Penglipuran. Desa Penglipuran sendiri memiliki minuman tradisional yang unik dan menyehatkan bernama loloh cemceman.

Minuman ini terbuat dari daun cemcem atau daun kloncing yang memiliki khasiat melancarkan pencernaan. Kamu akan mendapati banyak warga yang menjajakan minuman tardisional ini di pintu masuk maupun pintu keluar desa.

Baca juga: 5 Jajanan Nusantara, Serupa tapi Punya Nama Berbeda

Selain minuman berkhasiat, desa yang juga termasuk Desa Bali Aga ini memiliki makanan tradisional yang berbahan dasar ketupat dan sayuran rebus dengan saus bumbu kacang yang pedas dan gurih bernama tipat cantok.

Tentu tak ada salahnya untuk mencicipi makanan khas Desa Penglipuran untuk memanjakan perutmu saat berwisata.

5. Hutan Bambu yang Melindungi Desa

Selain di keliling pegunungan, desa ini juga dilindungi oleh hutan bambu yang luasnya mencapai 45 hektar atau hampir 40 persen dari luas keseluruhan desa lho. 

Kuatnya konsep Tri Hita Karana (hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam) yang dijunjung warga desa, hutan bambu itu terus dijaga kelestariannya. Hal ini sebagai bentuk pelestarian warisan leluhur dan wujud nyata menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam.

Kamu bisa berteduh, piknik dengan menikmati loloh cemceman dan tipat cantok atau sekadar mengambil foto selfie di hutan bambu yang asri ini lho.

6. Penglipuran Village Festival

Jika kamu datang di akhir tahun, kamu bisa menyaksikan pagelaran seni di desa ini lho. Ada Penglipuran Village Festival yang menampilkan berbagai kesenian tradisional khas Desa Penglipuran. Mulai dai parade pakaian adat Bali, parade seni budaya, Barong Ngelawang, hingga berbagai jenis perlombaan yang pastinya menghibur.

Ya wisata di desa ini ibarat oasis di tengah “panasnya” kehidupan kota. Membuat kamu sebagai wisatawan bisa menikmati ketenangan dan terhindar sejenak dari hingar bingar dan kebisingan kehidupan di perkotaan.


Baca informasi lainnya hanya di Kuarter.id

Related posts