Uniknya Desa Tenganan Pegringsingan Bali, dari Kain Hingga Perkawinan

  • Whatsapp
keunikan desa tenganan pegringsingan
Pemandangan di depan pintu masuk Desa Tenganan Pegringsingan. [Foto:Ist]

Kuarter.id – Desa Tenganan Pegringsingan menjadi salah satu desa wisata unik yang ada di Pulau Bali, yang terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.

Jika kamu hendak berkunjung ke sini kamu harus menempuh perjalanan cukup jauh dari Kota Denpasar, kurang lebih 2 jam perjalanan untuk menempuh jarak kurang lebih 70 km dari Kota Denpasar.

Read More

Setelah tiba di desa ini, kamu tidak akan menemukan loket pembayaran. Ya, desa ini hanya menerapkan tiket donasi. Tidak ada batasan jumlah donasi, berapa pun jumlah yang kamu berikan, kamu bisa bebas mengeksplor desa ini.

Masyarakat desa yang termasuk salah satu Desa Bali Aga ini, menganggap diri mereka bukan keturunan Jawa, melainkan Hindu India. Karena itulah mereka tidak ingin disamakan dengan masyarakat Bali pada umumnya.

Dari keyakinan mereka itulah, muncul keunikan upacara dan tradisi yang berbeda dengan umat Hindu lainnya di Bali. Mereka tidak mengenal upacara ngaben (pembakaran mayat), Nyepi, bahkan tidak mengenal sistem kasta. Mereka pun mengakui kesamaan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam beberapa posisi dan dalam struktur sosial.

Baca juga: 3 Desa Unik Bali Aga yang Sayang untuk Dilewatkan

Tentunya masih banyak lagi hal unik yang ada di Desa Tenganan, di antaranya.

1. Bentuk Rumah

Keunikan pertama yang bisa kamu lihat ketika berkunjung ke desa wisata ini ialah bentuk bangunan tempat tinggal warga. Kamu bisa melihat bentuk bangunan, luas, struktur, hingga bahan penyusun bangunan seluruh pemukiman warga hampir sama.

Warga Desa Tenganan tidak boleh sembarangan dalam membangun kediamannya. Mereka harus memperhatikan awig-awig atau aturan desa, karena mereka tinggal di tanah milik desa.

Nah, dalam satu pekarangan harus ada “bale tengah”. Di bagian atas bale ini dibuat jineng atau lumbung padi. Sedangkan, di sebelah selatan dibangun”bale beten” dan di sisi barat terdapat dapur dan toilet.

2. Kain Tenun Gringsing

kain tenun gringsing
Gadis Desa Tenangan mengenakan kain tenun gringsing. [Foto:Ist]
Saat berkunjung ke desa wisata yang sangat asri dan jauh dari hiruk pikuk kota ini, kamu akan mendapati banyak warga yang beraktivitas membuat kerajinan.

Salah satu kerajinan yang dibuat warga desa ialah kain tenun gringsing, yang merupakan kain tenun ikat ganda atau dobel ikat.

Uniknya warga desa masih mempertahankan teknik lama dalam membuat kain tenun ini. Mereka menggunakan alat tradisional peninggalan leluhur mereka atau tanpa menggunakan mesin.

Tak ayal, karena motifnya yang unik, proses pewarnaan yang alami, dan pembuatannya yang manual, warga desa membutuhkan waktu 2-5 tahun untuk menyelesaikan satu helai kain tenun gringsing.

Karena teknik dobel ikat yang digunakannya sangat unik, bahkan satu-satunya di Indonesia, membuat kain ini dibandrol dengan harga yang cukup fantastis. Sebanding dengan lamanya proses pembuatan dan kerumitan motif kain yang dibuat.

Dalam upacara adat di desa ini, kamu bisa melihat warga desa menggunakan kain tenun yang sangat cantik peninggalan leluhur mereka dengan usia ratusan tahun.

3. Anyaman Ate

Selain menjadi pengrajin kain tenun gringsing, banyak warga desa yang juga membuat kerajinan dengan bahan dasar ate. Warga juga masih membuat kerajinan ini secara manual alias hand made lho.

Sekilas kerajinan ate ini mirip sekali dengan rotan. Ate sendiri memiliki batang yang panjang mirip rotan dan biasa ditemukan di hutan Bali. Warga sendiri mengubah ate menjadi kerajinan unik, mulai dari tas, kotak tisu, piring atau wadah besar, bahkan keranjang buah.

Tentunya kamu bisa menjadikan produk ini sebagai buah tangan untuk keluarga maupun sahabat.

4. Tradisi Perang Pandan

perang pandan mekare kare
Tradisi perang pandan atau mekare-kare. Menggunakan pandan berduri dan tameng dari rotan. [Foto: Ist]
Masih ada lagi nih keunikan di Desa Tenganan, yaitu tradisi Perang Pandan atau Mekare-kare (Megeret Pandan). Tradisi ini begitu dinantikan oleh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Tak seperti tradisi lainnya yang mulai dijadikan pertunjukan pentas seni, warga Desa Tenganan masih berupaya mempertahankan kesakralan tradisi ini. Bagi mereka “kesakralan” adalah hal yang utama, dibandingkan kepentingan popularitas dan keuntungan wisata.

Baca juga: Lancong Yuk ke Desa Terbersih di Dunia, Desa Penglipuran Bali

Hal inilah yang membuat wisatawan harus bersabar untuk menunggu tibanya tradisi ini, yang hanya digelar satu kali dalam setahun, yaitu pada puncak prosesi upacara adat Desa Tenganan Pengringsingan, Usaba Sambah sekitar bulan Juni-Juli.

Dalam tradisi ini warga laki-laki melakukan perang fisik dengan menggunakan daun pandan berduri sebagai senjata dan tameng berupa anyaman rotan.

Tak jarang karena tajamnya duri daun pandan, para pria akan mengalami luka di bagian punggung. Nah, luka ini akan disembuhkan dengan menggunakan obat tradisional yang berasal dari umbi-umbian.

Saat menyaksikan tradisi ini, kamu juga akan mendengarkan iringan musik Gamelan Seloding, di mana orang yang memainkannya harus disucikan terlebih dahulu dan hanya orang tertentu saja yang bisa memainkannya.

Bagaimana? Sudah bisa membayangkan keseruan dan ketegangan tradisi unik warga Desa Tenganan kah?

5. Sistem Pernikahan

Terakhir yang tak kalah unik di desa yang tergolong Desa Bali Aga ini adalah sistem pernikahan. Ya warga Desa Tenganan terikat dengan aturan adat.

Yogantara (2018) dalam buku berjudul “Perkawinan Endogami di Desa Tenganan Pegringsingan Karangasem, menuliskan, warga Desa Tenganan diharuskan untuk mencari jodoh di lingkungan sosialnya sendiri, misalnya lingkungan kerabat, klan, lingkungan kelas sosial, atau yang sangat dekat dengan hubungan kekerabatannya. Sistem pernikahan ini disebut Perkawinan Endogami.

Setiap warga desa yang menikah atau memperistri warga asli Desa Tenganan atau menikah dengan sesama warga desa, maka mereka berhak menjadi krama Desa atau warga desa.

Namun, jika mereka memperistri warga dari luar desa, maka mereka akan ditempatkan di krama bumi, ke banjar pande di sebelah timur Desa Tenganan. Yang artinya mereka tidak lagi menjadi warga asli Desa Tenganan.

Unik bukan? Itulah kayanya Indonesia tempat tinggal kita. Siapa yang tak bangga?


Baca informasi lainnya hanya di Kuarter.id

Related posts