[Cerpen] Pemilik Setetes Air Hujan

  • Whatsapp
cerpen pemilik setetes air hujan
Ilustrasi. [Foto: Ist]

Kuarter.id – Cahaya kilat tiba-tiba menyilaukan penglihatan, diikuti suara guntur yang kemudian membuat bising telinga. Putri kecil ku pun terbangun dibuatnya. Saking paniknya ia segera menghampiriku yang tengah meneguk secangkir teh hangat di balkon apartemen.

“Mama…. Hafa takut!” rengeknya seraya memeluk tubuhku. Aku pun balas memeluknya dan membelai rambutnya yang masih wangi sampo Komodo lepas keramas pagi tadi.

Read More

“Tidak apa-apa Hafa, ada mama di sini,” Dan belum selesai kalimatku untuk menenangkannya, tetes hujan beserta kilatan guntur mulai melengkapi lagi ketakutan putri kecilku yang tahun ini genap berusia 11 tahun. Aku pun segera membawanya masuk ke kamar, mencoba menenangkannya dan kembali menina bobokannya.

Melihat tetes air hujan yang tiada pernah henti menghampiri kota Armaya, benar saja kota ini diberi nama demikian. Armaya, berarti hujan di malam hari dalam bahasa Jepang. Karena hujan ini pula kenangan masa laluku pun datang kembali. Kenangan yang begitu membahagiakan dan tak ingin aku lupakan.

“Hafa tahu tidak mama dulu ketika seumur Hafa juga takut sekali dengan hujan,” terangku membuka percakapan dengan Hafa. Aku sudah lama sekali memimpikan berbagi cerita ini kepada orang lain, namun duniaku yang sepi membuatku tak pernah berani berbagi cerita. Dan kali ini aku memberanikan diri mencoba membagi kebahagiaan itu dengan putri kecilku.

Baca juga: [Cermin] Wanita Pilihan

“Oh ya ma? Kok bisa?” matanya yang hitam bulat menggemaskan itu memancarkan binar ketertarikan. Hafa memang selalu senang tiap kali aku bercerita.

“Dulu, aki dan nini sangat miskin sekali Hafa. Rumah aki nini hanya terbuat dari bilah-bilah bambu yang dianyam. Gentengnya pun dari anyaman daun rumbia. Kadang jika hujan lebat, air merembes masuk melalui lubang-lubang kecil di tembok dan genteng. Ketakutan pun menghantui mama tiap kali hujan turun. Tak jarang mama menghujat Tuhan dan menyumpahiNya dengan keji,” jelasku sambil mengenang masa kecilku di desa.

Hingga suatu waktu …

Hujan deras yang mengguyur desa membuat rumahku hampir terendam air. Tak terlihat lagi perabot kami utuh. Lemari kayu berlumut, meja dimakan rayap, hingga ember dan baskom jadi furnitur utama di rumah kami. Bahkan karena saking banyaknya lubang di rumah kami, mak tak kuasa lagi menyediakan ember dan baskom untuk menampung air hujan. Jadilah rumah kami macam arena pertunjukan seni pleh tetesan air hujan.

Hujan terus mengguyur hingga pagi, padahal aku harus berangkat ke sekolah, ujian. Ya hari itu ujian kelulusanku di sekolah dasar. Mau tak mau aku harus berangkat, meski hujan tak ada tanda akan berhenti, mak dan abah terus memotivasi.

“Mak bangga sama Drey, selalu jadi bintang kelas, Mak yakin Drey akan jadi orang sukses,” begitu mak selalu menyemangati.

Pagi itu pun sama, matanya menaruh harap. Aku tak kuasa untuk merenggut mimpinya, melihatku sukses. Namun, keluhku lagi-lagi terucap. Meski hanya dalam hati aku sangat benci dengan Tuhan yang telah menciptakan hujan. Dalam hidupku hujan selalu saja membawa kesedihan.

Setelah siap dengan seragam di kantong plastik, aku mengumpulkan niat untuk menerabas hujan. Ku siapkan pelepah daun pisang untuk melindungiku dari guyuran hujan. Aku pun mengumpulkan niat dan lekas berpamitan pada mak dan abah.

Langkahku gontai, tak berani aku berlari. Saat itu pula tak ku sangka tetesan air mata membasahi pipiku. Aku teringat aa ku yang terpeleset di jurang saat hujan deras sebulan lalu. Bahkan di waktu yang sama sawah abah yang siap panen habis tergenang air hujan. Abah benar-benar kesulitan kala itu. Peristiwa tragis itulah yang membuatku semakin benci dengan kehadiran hujan. Hujan bagiku selalu membawa kesengsaraan.

Ingin segera ku urungkan niatku untuk pergi ke sekolah, namun kehadiran seseorang di depan mataku berhasil menggagalkan niat itu.

Dengan baju yang tak kalah jauh jeleknya dengan bajuku, anak itu dengan girang menerabas hujan. Persis sepertiku yang berada di bawah pelepah daun pisang untuk melindungi tubuhnya dari derasnya tetesan air hujan. Namun lengkung bibirnya jauh berbeda dengan milikku. Ia begitu tampak bahagia di bawah hujan. Langkahnya ringan, samar-samar ku dengar senandung suaranya yang merdu.

Aku pun tanpa sadar berbalik arah, batal hendak segera pulang. Senyumnya, tarian, dan senandungnya seakan menghipnotisku. Aku penasaran.

Aku pun mengikutinya diam-diam, berharap tak diketahui. Namun ….

“Hai, kamu mengikutiku?” Kelu bibirku tak bisa berkata. Aku menunduk terdiam.

“Kedinginan?” Masih kelu, bibirku bak diberi lem, tak dapat bergerak.

“Astaga!! Sini berteduh dulu,”Entah mengapa dengan mudahnya ku ikuti sarannya.

“Ini ubi rebus, masih hangat, semoga bisa membantu bibirmu itu bergerak, hehehe.”

Tawanya lepas, tak ku sangka aku ikut tertawa.

“Terima kasih,” jawabku singkat sambil memakan ubi rebus yang langsung aku lahap tanpa ku kupas kulitnya terlebih dahulu.

“Kamu mau kemana?” tanyanya setelah menelan ubi rebus yang manis dan legit itu.

“Sekolah, ujian.” Jawabku masih malu-malu.

“Aku Harendra, siswa SMP di Cibarua, mau ke sekolah juga. Cepat makan ubinya, nanti kamu terlambat ujian!” Aku pun mengikuti kalimatnya, lagi-lagi seperti dihipnotis.

Lepas ubi itu lenyap dari tangannya, tiba-tiba ia bangun dari duduknya. Tak ingin ia pergi dari pandangan, aku gegas bertanya.

“Mengapa kamu sangat bahagia? Padahal hujan deras menghambat langkahmu pergi ke tujuan kan?”

“Untuk apa bersedih? Hujan kan rahmat Tuhan.”

“Rahmat apanya? Hujan itu terkutuk!” Mendengar kalimatku itu ia kembali duduk. Kedua tangannya lekas memegang pundakku erat. Mata kami saling berpandangan.

“Maka apabila Dia menurunkan hujan itu kepada hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka bergembira,” lagi-lagi suaranya yang teduh menghipnotisku. Matanya yang hangat, dan tangannya yang begitu kuat mencengkram bahuku, membuat air mataku menetes. Kali ini tetes kebahagian. Aku benar-benar terhipnotis.

Baca juga: [Cermin] Senyum

“Berbahagialah, …” Dia nampak berpikir.

“Eh siapa namamu? Ah tak pentinglah, berbahagialah kawan. Kau beruntung Tuhan mengirimkan hujan kepadamu. Hanya yang dia kehendaki yang diberikan rahmat. Hewan dan tumbuhan semua menanti hujan. Tanpa hujan mereka tak akan hidup, begitu pula kita. Bahkan 50-60 persen isi tubuh kita adalah air. Lalu bagaimana kamu sejahat itu membenci Tuhan yang begitu luas rahmatNya,

Coba kamu lihat burung-burung itu, mereka menari bergembira di bawah hujan. Juga katak di sana, menyanyi bergembira menyambut hujan. Bapak di gubuk itu, tersenyum dengan kehadiran hujan, yakin sumurnya akan dipenuhi oleh air hari ini.

Mungkin tak terjangkau dari pandangan kita, bahwa ada banyak sekali desa yang kekeringan, berharap Tuhan limpahkan hujan kepada tanah mereka, ladang dan sawah mereka. Namun Tuhan tidak berikan rahmat itu kepada mereka. Lantas pantaskah kita bersedih, bolehkan kita marah, lalu menghakimi Tuhan? Sungguh hujan itu mempesona, di dalamnya terdapat keberkahan dan penerimaan yang tulus ikhlas bagi mereka yang mengerti ke dalaman makna sebuah ketetapan.” Aku mendengar kalimatnya dengan khidmat, mengikuti setiap gerakan tangannya, juga mencerna dengan baik setiap kata-katanya. Aku tertampar, tamparan yang menyadarkan hati yang begitu ternodai kebencian.

“Baiklah kawan, sepertinya ini sudah mulai mendekati waktu ujianmu. Bergegaslah, semoga hujan menjadi kenangan yang mengantarkanmu lulus ujian,”

“Terima kasih Harendra, untuk ubi dan ……” aku bingung hendak melanjutkan kalimatku, berbagai kata manis berkeliaran di pikiran, namun akhirnya aku memilih,

“Dan kegilaanmu,” Harendra tertawa, kemudian melambai. Sosoknya menghilang di balik kabut pagi itu. Hingga hari ini sosoknya tak pernah bisa lagi ku temui. Hari itu pertemuan pertama dan terakhirku dengan dirinya.

“Harendra pergi ke mana ma?” Tanya putriku lepas ceritaku berakhir. Aku pun hanya bisa menggeleng.

“Mama terus mencarinya selepas kejadian itu. Bahkan bertanya kepada penduduk desa. Tapi tak ada satu pun warga desa yang mengenalnya.”

“Ajaib!” seru putri kecilku itu girang, tak terlihat sama sekali pikiran buruk memenuhi kepalanya.

“Kamu tahu sayang, Harendra itu berarti pemilik setetes air hujan.”

“Mukjizat ma, Hafa tahu itu pasti mukjizat Tuhan buat mama. Juga Hafa, karena mama ceritakan pengalaman ini ke Hafa. Hafa jadi tidak takut lagi dengan hujan, Hafa akan bergembira! Selalu!” Matanya kembali berbinar, dipeluknya kembali tubuhku oleh kedua tangannya yang mungil.

“Hafa sayang mama,” Aku pun membalas pelukan putri kecilku, mengecup keningnya lembut.

Persis di usia putri kecilku yang ke-11 tahun, dulu aku merasakan pahitnya kehilangan aa kesayanganku dan kemiskinan yang teramat karena sawah abah yang gagal panen, hingga aku begitu membenci hujan. Namun di saat itu pula aku bertemu Harendra yang mengubah hidupku.

Bagiku sosok Harendra nyata. Namun bisa jadi perkataan putriku memang benar? Harendra adalah kiriman sang pemilik setetes air hujan kepadaku, untuk memperbaiki sikapku? Entahlah.


Baca karya sastra lainnya hanya di Kuarter.id

Related posts