5 Keterampilan Sosial yang Penting Diajarkan Pada Anak

  • Whatsapp
keterampilan sosial untuk anak
Ilustrasi anak sedang bekerjasama dan berbagi mainannya. [Foto: Cottonbro from Pexels]

Kuarter.id – Keterampilan sosial menjadi hal yang mutlak untuk diajarkan pada anak. Keterampilan ini tentunya bisa dilatih dan terus ditanamkan pada anak sejak usia dini.

Dengan memiliki keterampilan sosial anak akan memperoleh banyak keuntungan. Mulai dari pendidikan dan karir yang baki, kesuksesan dalam hidup, serta mampu menciptakan hubungan pertemanan yang kuat.

Read More

Namun, anak yang tidak memiliki keterampilan sosial akan cenderung, bergantung pada orang lain, memiliki masalah hukum, masalah penggunaan zat-zat terlarang, hingga masalah dalam membangun hubungan dengan orang lain. Bahkan mereka bisa mudah stress karena tidak tahu cara berinteraksi yang baik dengan orang lain.

Dikutip dari verywellfamily.com berikut 5 keterampilan sosial yang bisa dilatih sejak dini pada anak.

1. Berbagi

Latihlah anak untuk berbagi. Dengan kebiasaan berbagi ini, anak akan dapat menjalin dan mempertahankan hubungan pertemanannya.

Baca juga: Wajib Ajarkan 3 Keterampilan Ini pada Anak di 2021

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Psychological Science, anak-anak yang berusia kurang dari 2 tahun menunjukkan keinginan untuk berbagi dengan orang lain. Namun, hal ini bisa terealisasi jika mereka memiliki sesuatu dalam jumlah yang banyak untuk diberikan kepada orang lain.

Sedangkan anak-anak yang berusia 3-6 tahun mulai menampakkan rasa egoisnya untuk berbagi. Menurut mereka dengan berbagi justru akan mengurangi apa yang mereka miliki. Seperti ketika berbagi kue, membuat mereka mendapatkan lebih sedikit dari yang mereka miliki.

Namun bagi sebagian anak lain, mereka akan lebih mudah berbagi mainan yang sudah tidak mereka sukai.

Nah, untuk anak di usia 7 atau 8 tahun, cenderung lebih peduli dengan keadilan. Di usia ini anak akan lebih bersedia untuk berbagi. Mereka merasa nyaman dengan dirinya, sehingga berbagi adalah salah satu cara yang mereka lakukan untuk meningkatkanya kenyamanan pada dirinya sendiri.

Tentunya dengan mengajarkan anak berbagi akan dapat membantu meningkatkan harga diri anak.

Kamu sebagai orang tua dapat memuji perilaku anak yang hendak berbagi dengan orang lain dengan menjelaskan perasaan mereka, seperti “Ibu senang adik mau berbagi kue dengan kakak. Ibu yakin, kakak akan senang dengan kue yang adik berikan. Berbagi adalah hal yang baik untuk dilakukan.”

Namun, kamu jangan memaksa mereka jika belum mau berbagi ya. Kenalkan konsep bermain bergantian secara perlahan kepada anak.

2. Kerjasama

Kerjasama berarti bekerja bersama orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Anak yang terbiasa melakukan kerjasama akan bersikap hormat ketika orang lain mengajukan permintaan. Anak juga akan berkontribusi, berpartisipasi dan mau membantu orang lain.

Keterampilan satu ini tentunya akan membuat anak mampu bergaul dengan orang-orang sekitarnya, seperti ketika bermain di lingkungan rumah maupun ketika berada di kelas.

Kelak ketika anak beranjak dewasa, kemampuan ini diperlukan agar mereka berhasil di lingkungan kerjanya.

Tanamkan pentingnya kerjasama tim dan pekerjaan akan lebih ringan jika dilakukan dengan bekerjasama.

Nah, kamu sebagai orang tua bisa mulai melatih anak di usia 3 tahun untuk bekerjasama. Misal bekerjasama dengan saudara menyusun mainan lego. Atau kamu bisa meminta bantuannya untuk membantumu mengambilkan kebutuhan adiknya yang masih bayi.

Kamu juga bisa memulainya dengan cara membuat pembagian tugas atau pekerjaan di rumah. Ciptakanlah kesempatan agar seluruh anggota keluarga bisa bekerjasama menyelesaikan pekerjaan yang ada di rumah.

3. Mendengarkan

Kemampuan mendengarkan lawan bicara dapat membuat anak lebih menghargai dan memahami ketika ada yang berbicara.

Kemampuan mendengarkan ini bukan berarti hanya “diam” ketika ada yang sedang berbicara. Namun, mereka benar-benar menyerap dan memahami apa yang dikatakan orang lain. Kemampuan mendengarkan juga dapat menjadikan komunikasi lebih sehat.

Kemampuan ini menjadi semakin sulit untuk dilatih, ketika semakin banyak orang berkomunikasi dengan menatap gawai mereka.

Baca juga: Cara Tanamkan Literasi Keuangan kepada Anak

Namun, tentu masih ada cara agar anak memiliki keterampilan sosial ini. Seperti membacakan buku untuk anak dan memberikan mereka kesempatan untuk menceritakan kembali apa yang telah mereka dengarkan.

Ketika ada bagian yang terlewat, jangan segan untuk membantu mereka melengkapi ceritanya. Dan berilah ruang agar mereka bisa dengan leluasa bicara, jangan biarkan orang lain mengganggunya.

4. Melakukan Kontak Mata

Komunikasi yang baik dapat dihasilkan dengan kontak mata yang baik pula. Kamu sebagai orang tua dapat melatih keterampilan sosial ini dengan terus mengingatkan anak agar melihat mata orang yang sedang ia aja bicara.

Jangan sungkan untuk memberikan pujian kepada anak jika mereka berhasil melihat mata orang lain saat mereka berbicara.

Latihlah anak dengan beragam situasi. Pertama buatlah situasi saat anak bercerita namun kamu sebagai orang tua tidak menatap matanya (misalnya kamu melihat ke bawah atau memejamkan mata).

Kemudian di situasi lainnya, ketika anak bercerita kamu dengan seksama memperhatikannya dan melihat matanya.

Lalu mintalah ia mengungkapkan perasaannya dari dua situasi di atas. Dari sini kamu bisa berdiskusi dengannya pentingnya melakukan kontak mata ketika berbicara dengan orang lain.

5. Tata Krama

Penting bagi setiap anak untuk diajarkan keterampilan sosial ini, ya tata krama atau sopan santun. Ajarkan anak bersikap baik dan sopan ketika berada di rumahnya maupun di rumah orang lain.

Kamu sebagai orang tua bisa menjadi panutan untuk anak dengan membiasakan mengucakan “terima kasih, tolong, dan maaf” baik itu kepada orang lain maupun kepada anak.

Ingatkan mereka jika mereka lupa berperilaku sopan, namun berikan pujian ketika mereka mampu bertata krama yang baik. Hal ini tentu dapat menjadi pemantik mereka agar terbiasa santun dan sopan di mana pun mereka berada.


Baca informasi lainnya hanya di Kuarter.id

Related posts