3 Desa Unik Bali Aga yang Sayang untuk Dilewatkan

  • Whatsapp
desa unik bali aga
Keindahan dan kebersihan di Desa Penglipuran, Bangli, Bali. [Foto: Pinterest]

Kuarter.id – Pulau Bali masih menjadi destinasi wisata favorit yang sayang dilewatkan bagi masyarakat, baik itu wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.

Merujuk data yang dirilis databoks.katadata.co.id tahun 2018, Bali menjadi kota paling banyak dikunjungi turis asing. Bali menjadi satu-satunya wakil Indonesia dengan jumlah kunjungan 8,3 juta wisatawan asing dan meraih peringkat 19 sedunia.

Read More

Bahkan menurut survei yang dirilis oleh Populix, di tengah pandemi saat ini pun, masih banyak wisatawan yang berkeinginan untuk mengunjungi Bali saat liburan akhir tahun 2020 lalu. Di mana sebanyak 19 persen suara responden memilih Bali sebagai tujuan wisata. Disusul Yogyakarta sebesar 15 persen, Bandung 8 persen kemudian Lombok diangka 4 persen.

Ya, Bali memang memiliki pesonanya sendiri. Selain karena terkenal dengan keramahan penduduknya, Bali juga menyimpan keindahan panorama alam yang memanjakan mata. Ditambah lagi budaya dan adat istiadat yang masih terjaga membuat Bali begitu dikagumi hampir di seluruh penjuru dunia.

Jika kamu berkesempatan mengunjungi Bali, tak ada salahnya untuk menikmati wisata budaya unik di Desa Bali Aga lho. Bali Aga atau Bali Mula merupakan suku asli yang menghuni Pulau Bali. Mereka mendiami beragam desa dan menjadi penduduk tetap di daerah tersebut sejak dulu.

Baca juga: Rekomendasi Wisata Rafting Populer di Bali

Bahkan hingga kini, Desa Bali Aga masih terjaga keaslian dan kekhasannya. Meski dibanjiri hadirnya suku-suku seperti Suku Majapahit bahkan digiring arus modernisasi, Desa Bali Aga tetap mempertahankan ketradisionalan dan kekhasan suku mereka.

Berikut 3 Desa Bali Aga dengan budaya dan ciri khas masing-masing yang begitu unik, yang sangat sayang untuk dilewatkan saat bertandang ke Pulau Bali.

1. Desa Tenganan Pegringsingan

Desa Tenganan merupakan Desa Bali Aga yang terletak di Kabupaten Karangasem. Dari Bandara I Gusti Ngurah Rai kamu bisa menempuh jarak kurang lebih 2,5 jam untuk tiba di lokasi. Dengan mengendarai kendaraan bermotor melewati jalan By Pass Ida Bagus Mantra kamu tak perlu khawatir tersesat, karena mudahnya akses untuk mencari lokasi desa satu ini.

Setiba di pintu perbatasan Karangasem dan Klungkung, kamu hanya perlu menempuh jarak kurang lebih 10-15 menit lagi untuk tiba di desa yang terletak di pinggir jalan raya Karangasem ini. Setelah itu kamu tinggal berbelok sedikit dan tibalah kamu di desa yang di kelilingi bukit-bukit yang indah.

Selain karena budaya tradisionalnya yang masih terjaga, Desa Tenganan ini juga memiliki kerajinan unik mulai dari kain tenun ikat yang disebut Pegringsingan, hingga anyaman yang terbuat dari bahan ate (akar liar) yang dikeringkan untuk kemudian dijadikan tas, perabot rumah tangga, hingga beragam aksesoris.

Bahkan beragam kerajinan tersebut masih dibuat secara manual dengan tenaga manusia. Kamu bisa menyaksikan secara langsung bahkan mencoba belajar menenun sendiri kain Pegringsingan lho.

Selain itu jika kamu datang di sekitar bulan Juni-Juli akan ada beragam upacara adat yang hanya diadakan setahun sekali, seperti Perang Pandan, ayunan dari kayu berjumlah 8 buah yang digerakkan manual oleh tenaga manusia, dan masih banyak upacara lainnya yang unik dan jarang kamu temui di daerah lainnya di Bali.

2. Desa Trunyan

Untuk tiba di Desa Bali Aga satu ini kamu membutuhkan perjuangan yang ekstra. Selain karena letaknya di pelosok yaitu di tepi Danau Batur, Bangli, kamu juga perlu menyeberangi danau dengan perahu untuk tiba di desa bernama Desa Trunyan ini.

Keunikan desa ini salah satunya adalah kuburan terbuka, di mana ketika penduduk desa tersebut meninggal dunia mayat atau jenazahnya dibiarkan begitu saja di bawah pohon “Taru Menyan”.

Baca juga: Pesona Wisata Kintamani Bali

Menurut kepercayaan penduduk Desa Trunyan, pohon Taru Menyan yang wangi akan menghilangkan bau menyengat yang dikeluarkan oleh jenazah yang membusuk. Sehingga mereka tidak khawatir membiarkan mayat tanpa prosesi penguburan.

Jadi, saat tiba di Desa Trunyan jangan takut saat melihat tengkorak dan tulang belulang di sana ya.

3. Desa Penglipuran

Desa Penglipuran menjadi Desa Bali Aga terbersih di dunia seperti dikutip dalam Jurnal Kajian Bali Volume 8 April, 2018 lalu. Desa ini mampu menjaga kebersihannya karena terdapat awig-awig atau peraturan adat yang wajib ditaati oleh penduduk yang tinggal di desa tersebut. Jika mereka tidak mematuhi awig-awig tersebut akan ada sanksi dari kepala desa adat di sana.

Selain itu, warga desa juga tidak boleh membawa masuk kendaraan ke pekarangan utama desa. Kamu pun akan disuguhi pemandangan gunung dan pura yang indah, serta taman-taman di halaman muka rumah yang tertata rapi. Bahkan warga pun tidak boleh mengubah 3 elemen bangunan adat, yaitu Bale Adat, dapur, dan pagar dengan kori.

Nah, untuk tiba di desa Penglipuran yang terletak di Kabupaten Bangli ini kamu cukup menempuh jarak kurang lebih 2 jam dari Bandara Internasional I Gusti Ngurang Rai, Badung dengan kendaraan bermotor. Setiba di Penglipuran kamu pun bisa menikmati keindahan desa dan kebersihannya yang memanjakan mata.


Baca informasi lainnya hanya di Kuarter.id

Related posts