3 Alasan Jangan Sembarangan Upload Sertifikat Vaksin Covid-19

  • Whatsapp
upload sertifikat vaksin covid-19
Ilustrasi. [Foto: Ist]

Kuarter.id – Sejak Januari 2021 lalu, pemerintah Republik Indonesia mencanangkan program vaksinasi Covid-19 nasional. Kebijakan ini merupakan langkah percepatan untuk menekan penyebaran Covid-19.

Langkah ini juga dilakukan pemerintah sebagai tahap pemulihan perekonomian Indonesia yang sempat anjlok karena pandemi. Oleh karena itu, pemerintah berupaya gerak cepat untuk menuntaskan program ini dalam waktu singkat.

Read More

Program vaksinasi Covid-19 nasional diawali  Presiden Joko Widodo bersama beberapa tokoh masyarakat yang pertama kali menerima vaksin pada 13 Januari 2021.

Pemerintah mengharapkan hal ini menjadi stimulus bagi masyarakat Indonesia agar tidak takut divaksin. Pemerintah pun meyakini vaksin yang diberikannya kepada masyarakat sudah teruji dan terbukti aman.

Dilansir dari kompas.com, skema program vaksinasi Covid-19 nasional terbagi dalam 4 tahapan. Usai vaksinasi dilakukan kepada presiden dan beberapa tokoh masyarakat, pada tahapan pertama, program ini menyasar tenaga kesehatan hingga tenaga penunjang yang bertugas di fasilitas kesehatan.

Vaksinasi pertama diberikan kepada tenaga kesehatan karena profesinya yang rentan berinteraksi dengan pasien Covid-19 maupun non Covid-19, sehingga dipilih sebagai penerima pertama.

Program vaksinasi tahap kedua diberikan kepada petugas pelayan publik dan masyarakat berusia lanjut. Petugas pelayan publik yang dimaksud adalah TNI/Polri, aparat hukum, dan pekerja publik yang karena profesinya rentan terhadap virus.

Masyarakat berusia lanjut juga menjadi prioritas karena dianggap rentan terhadap virus ini.

Baca juga: Selama Pandemi, Persentase Menonton Drama Korea Meningkat

Kemudian, tahap ketiga menyasar masyarakat rentan terhadap aspek geospasial, sosial, dan ekonomi. Terakhir, pada tahap keempat program ini menyasar masyarakat dan pelaku perekonomian lainnya.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, hingga 25 Februari 2021 sebanyak 1.461.920 orang di Indonesia telah menerima vaksin Covid-19.

Menurut Kemenkes, pada Februari 2021 lalu vaksin ini diberikan kepada 39 ribu orang per harinya. Sementara itu, pemerintah Indonesia menargetkan hingga akhir tahun ini vaksinasi dapat diberikan kepada 70% populasi (katadata.id). 

Saat ini vaksinasi tahap kedua sedang dilaksanakan di beberapa daerah. Kamu mungkin menjadi satu di antara sekian banyak pelayan publik yang menerima vaksin Covid-19.

Beberapa milenial yang merupakan bagian dari  penerima vaksin tahap kedua ini meng-upload foto dirinya di media sosial ketika tengah divaksin.

Ada yang meng-upload saat sedang disuntik, ada pula yang mengajak pengikutnya di media sosial untuk berani divaksin, serta ada pula yang justru meng-upload sertifikat bukti sebagai penerima vaksin.

Tanpa disadari, meng-upload sertifkat atau bukti sebagai penerima vaksin di media sosial dapat menimbulkan penyalahgunaan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Sayang, sikap kehati-hatian ini terkadang lupa dilakukan oleh sebagian orang, sehingga dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Berikut 3 alasan jangan upload sembarangan sertifikat vaksinasi ke media sosial.

Terdapat NIK dan Data Pribadi Lainnya

Perlu diketahui, vaksinasi diberikan sebanyak dua kali. Selang waktu antara pemberian vaksin pertama dan kedua kurang lebih 14 hari. Namun, bagi yang berusia lanjut, selang waktu kurang lebih 28 hari.

Baca juga: Januari 2021, Pengguna Aktif Facebook Tembus 2 Miliar Lebih

Nah, coba kamu perhatikan, pada sertifikat atau bukti penerima vaksin, tertera dengan jelas Nomor Induk Kependudukan (NIK), nama lengkap, alamat rumah, bahkan nomor telepon.

Informasi ini bersifat pribadi, sehingga tidak semestinya di-upload dan dipublikasikan ke banyak orang orang.

Terdapat Tempat Vaksinasi dan Riwayat Kesehatan

Selain itu, dalam sertifikat juga tertera waktu dan tempat melakukan vaksinasi. Riwayat kesehatan seseorang yang juga sifatnya pribadi juga mestinya tidak dipublikasikan ke orang lain. Tentu kamu tidak ingin kan bila informasi pribadimu malah disalahgunakan oleh orang lain?

Media Sosial Bisa Diakses Siapa Saja

Media sosialmu bisa dilihat oleh semua pengikutmu. Tentu kamu tidak bisa menyaring siapa saja pengikut yang bisa dipercaya atau tidak. Jika unggahanmu bermaksud mengajak orang lain untuk berani divaksin, maka kamu bisa menggunakan cara-cara lain yang lebih persuasif.

Upload kalimat yang mengandung motivasi dengan tetap melindungi data pribadimu. Tidak hanya mengajak orang lain untuk berani divaksin, ajak pula orang lain untuk melindungi data pribadi mereka di media sosial, ya!


Baca informasi lainnya hanya di Kuarter.id

Related posts